Sayur Gori di Hari Guru Marsudirini

Siang itu ada yang berbeda. Di ruang makan terbuka Sekolah Marsudirini, segenap guru unit KB, TK, SD, SMP, dan SMA berkumpul bersama. Dengan menerapkan protokol kesehatan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) mereka merayakan Hari Guru.

Diawali dengan motivasi dari Suster Penanggung jawab Yayasan Marsudiri Perwakilan Bogor, acara dilanjutkan dengan doa serta pemotongan tumpeng. Menutup rangkaian acara, para guru menikmati santap siang bersama.

Selain nasi tumpeng beserta pelengkapnya, menu spesial pada peringatan Hari Guru adalah sayur gori.

Gori adalah buah nangka muda. Bukan tanpa alasan menu ini disajikan di momen yang penuh syukur bagi para guru.

Dalam bahasa Jawa, sebelum menjadi gori (buah nangka muda), wujudnya berupa bakal buah yang disebut babal. Babal dalam tradisi masyarakat Jawa sering digunakan sebagai pengusir nyamuk. Caranya mudah. Cukup dengan membakarnya seperti menyalakan anti nyamuk bakar. Babal yang dipakai adalah babal kering yang tak bisa tumbuh menjadi gori.

Setelah menjadi babal, kemudian tumbuhlah menjadi gori. Gori banyak diolah menjadi berbagai menu masakan. Yang paling terkenal adalah gudek. Selain itu, gori juga menjadi menu dalam masakan padang. Bahkan di daerah Jawa Barat, gori merupakan salah satu bahan dalam gado-gado dan sayur asem.

Gori yang terus tumbuh akan menjadi buah nangka. Ini merupakan jenis buah yang beraroma harum. Selain dapat langsung dikonsumsi, buah nangka banyak dijadikan olahan makanan.

Melihat filosofi tersebut, sangat tepatlah jika pada peringatan Hari Guru di Sekolah Marsudirini, menu ini diangkat. Terdapat pesan mendalam bagi para guru.

Pertama, seorang guru haruslah kreatif. Mampu mengembangkan setiap peserta didik sesuai potensi masing-masing. Seperti babal, gori, dan nangka yang dapat diolah menjadi aneka rupa yang bermanfaat.

Kedua, seorang guru harus bisa hadir sebagai babal: mampu mengusir segala kecenderungan negatif yang mengganggu perkembangan peserta didik.

Ketiga, seorang guru harus bisa hadir sebagai gori: mampu berperan menjadi teman, guru, bahkan orang tua bagi peserta didik. Seorang guru haruslah menjadi pribadi yang supel, mudah bergaul dengan siapa saja. Seperti gori, bisa menjadi teman sambel goreng krecek dan telur cokelat dalam masakan gudek. Bisa menjadi teman rendang dan sambal hijau dalam masakan padang. Seperti buah nangka, bisa menjadi teman bagi kolang-kaling dan pisang dalam kolak.

Keempat, seorang guru harus bisa hadir sebagai buah nangka: membawa keharuman sekaligus harapan akan masa depan bagi para peserta didiknya.

Semoga filosofi sayur gori pada peringatan Hari Guru di Sekolah Marsudirini semakin mempertajam kualitas pelayanan para guru.

Selamat Hari Guru 25 November 2020!

Posted in: Informasi Umum