My Experience Of Live In

“My Experience of Live In”

13 Desember 2014 adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh semua siswa kelas XI SMA Marsudirini Bogor termasuk saya karena kami semua akan mengikuti Live In ke Purworejo. Jam 2 siang kami semua dan para guru pendamping yaitu Bu Maria, Bu Dessy, Pak Zico, dan Pak Brian berkumpul di kelas XI IPA 2 untuk Breefing terakhir sebelum kami berangkat.  Kami berangkat dari Bogor jam 4 sore dengan menggunakan sebuah bus. Kami harus menempuh perjalanan dari Bogor sekitar 14 jam lamanya untuk sampai di Purworejo.

Tanggal 14 Desember 2014, jam setengah 6 pagi kami semua tiba di Purworejo dan langsung menuju ke rumah Bu Maria. Ketika sampai disana, kami semua disambut oleh keluarga Bu Maria. Kami membersihkan diri sekaligus makan pagi bersama. Sebelum makan pagi, kami semua harus mengumpulkan hp dan semua barang-barang elektronik kepada guru pendamping karena selama live in kami hanya boleh berkomunikasi dengan teman serumah dan tidak boleh sengaja bertemu dengan teman lain. Kami pun hanya diperbolehkan membawa uang Rp. 50.000.

Setelah selesai makan pagi, kami semua pun berpamitan dengan keluarga Bu Maria dan langsung menuju ke Paroki. Ketika sampai di Paroki kami semua di sambut dengan ramah oleh Romo Paroki dan para Dewan Paroki. Kami mendengarkan beberapa nasihat yang diberikan oleh Romo Paroki setelah itu pun kami di berangkatkan untuk menuju ke rumah penduduk sekitar untuk melaksanakan live in.

Saya dan Valen di tempatkan di Rumah Keluarga Pak Sarimin. Letaknya di desa Hargorojo. Sebuah rumah yang sangat sederhana tapi sangat nyaman untuk saya. Ketika sampai disana kami disambut dengan ramah oleh Pak Sarimin. Suasana di rumah Pak Sarimin berbeda dari rumah-rumah yang lain. Rumah ini dipenuhi dengan tembang-tembang Jawa sehingga suasana menjadi benar-benar nyaman. Saya dan Valen pun ngobrol-ngobrol dengan Pak Sarimin. Ternyata Pak Sarimin hanya hidup dengan anak-anak, menantu dan cucu-cucunya. Istrinya telah meninggal kurang lebih 8 tahun yang lalu. Sebelum istirahat, kami di ajak untuk minum air nira yang sudah di masak, bahan dasar untuk membuat gula aren. Rasanya manis dan sedikit kental.

Setelah menaruh barang-barang, Saya dan Valen lalu bertemu dengan Suami dari Mba Sri, anaknya Pak Sarimin. Lalu kita melihat cara penyedapan nira dari pohonnya langsung. Kita juga bertemu dengan cucu-cucunya Pak Sarimin, ada Puan, Wiwit, dan Kukun. Wiwit dan Kukun ini kembar, tapi dari muka maupun sifat tidak mirip. Valen pun bermain bola bersama cucu-cucu Pak Sarimin sedangkan saya hanya ngobrol dengan Pak Sarimin. Pak Sarimin pun menceritakan banyak pengalamannya kepada saya. Lalu ketika sore saya bertemu dengan Mas Dwi, anaknya pak Sarimin dan juga istrinya. Saya dan Valen membantu  istri Mas Dwi memasak gula aren dan makan malam. Pada malam hari kami pun ngobrol dengan keluarga Pak Sarimin lalu kami beristirahat.

Setiap hari selama live in, saya dan valen selalu membantu mba sri memasak gula aren setiap pagi dan sore. Kami juga memasak makan pagi, siang, dan malam untuk keluarga Pak Sarimin. Menurut keluarga Pak Sarimin masakan saya dan Valen enak.  “Masakannya enak banget, apa lagi sambelnya. Enak tapi pedes banget.” Saya senang bisa memasak untuk keluarga ini. Senang bisa melihat keceriaan di muka mereka.

Hari ke 2 kami disana, Kami pergi misa ke Gereja yang ada di stasi Bagelen. Ketika di sana saya bertemu dengan semua teman-teman yang di tempatkan di stasi Bagelen. Senang rasanya bisa bertemu dengan mereka semua. Saya ke Gereja bersama Valen, Pak Sarimin, wiwit dan puan. Karena misanya dalam bahasa Jawa saya sedikit bingung dan bosan. Ditamba wiwit dan puan yang mungkin juga bosan mereka malah bermain-main dan saya sedikit kerepotan menenangkan mereka. Setelah selesai misa, kita pergi ke tempat pembuatan bakpia, tempat Mba Sri bekerja. Senang rasanya bisa melihat langsung pembuatan bakpia dari dekat.

Ketika sampai di rumah, Mas Dwi tidak pergi ke sawah seperti biasanya. Dia pergi ke hutan untuk mengambil buah melinjo yang sudah jatuh dari pohonnya. Setelah itu karena saya dan valen bosan di rumah, kita membantu mas dwi membuka kulit buah melinjo di kali. “Kalau mau buka kulit melinjo harus di busukin dulu, kalau ga gitu ga bisa di buka kulitnya”, Kata Mas Dwi. Ketika sedang membantu Mas Dwi, valen dan cucu Pak Sarimin bermain di kali dengan menangkap ikan. Saya masih membantu Mas Dwi membersihkan melinjo, lalu Mas Dwi bercerita banyak pengalaman hidupnya kepada kami. “Kalau hidup di desa kita ga bekerja kita ga bisa makan. Makanya kerjaan apapun asal halal y mas kerjain aja. Mas pernah kerja jadi pemulung sampai kerja di pabrik”. Salut banget sama Mas Dwi !

Hari berikutnya saya dan valen berkesempatan untuk membantu Pak Sarimin menanam pohon Albeysia untuk reboisasi. Lokasinya cukup dekat dari rumah Pak Sarimin hanya medannya sedikit berat dan licin. Kata Pak Sarimin pohon ini biasanya di pakai untuk bahan dasar membuat triplek dan kertas. “Bisa tumbuh sampai 10 tahun y syukur bisa di jual, kalau ga bisa tumbuh ya gapapa tanam lagi.” Salut banget sama Pak Sarimin yang walaupun udah tua tapi tetap naik turun bukit buat nanam albeysia.

Di hari terakhir di rumah Pak Sarimin, saya dan valen sempat berbincang-binncang dengan keluarga Pak Sarimin. Mereka senang sekali kita bisa nginap di rumah Pak Sarimin walaupun Cuma beberapa hari. Pak Sarimin juga berpesan jangan pernah melupakan keluarga Pak Sarimin dan desa Hargorojo. Senang sekali bisa berada di tengah-tengah keluarga ini. Saya berdoa semoga keluarga ini selalu di lindungi Tuhan, selalu di beri kesehatan, rezeki yang cukup. Semoga Puan bisa jadi Romo, semoga kukun bisa jadi atlit, semoga wiwit bisa jadi orang sukses dan semoga saya bisa kembali lagi ke Purworejo dan bertemu kembali dengan keluarga ini. Amin ..

 

By : Hanna